Tradingan.com - Dengan langkah ragu-ragu aku mendekati ruang dosen di mana Pak Hr berada.
Winda, sebuah suara memanggil.Hei Ratna!.
Ngapain kau cari-cari dosen killer itu?, Ratna itu bertanya heran.
Tau nih, aku mau minta ujian susulan, sudah dua kali aku minta diundur terus, kenapa ya?.
Idih jahat banget!.
Makanya, aku takut nanti di raport merah, mata kuliah dia kan penting!, tauk nih, bentar ya aku masuk dulu!.
He-eh deh, sampai nanti! Ratna berlalu.
Dengan memberanikan diri aku mengetuk pintu.
Masuk!, Sebuah suara yang amat ditakutinya menyilakannya masuk.
Selamat siang pak!.
Selamat siang, kamu siapa?, tanyanya tanpa meninggalkan pekerjaan yang sedang dikerjakannya.
Saya Winda!.
Aku..? Oh, yang mau minta ujian lagi itu ya?.
Iya benar pak.
Saya tidak ada waktu, nanti hari Mminggu saja kamu datang ke rumah saya, ini kartu nama saya, Katanya acuh tak acuh sambil menyerahkan kartu namanya.
Ada lagi? tanya dosen itu.
Tidak pak, selamat siang!
Selamat siang!.
Dengan lemas aku beranjak keluar dari ruangan itu. Kesal sekali rasanya, sudah belajar sampai larut malam, sampai di sini harus kembali lagi hari Minggu, huh!
Mungkin hanya akulah yang hari Minggu masih berjalan sambil membawa tas hendak kuliah. Hari ini aku harus memenuhi ujian susulan di rumah Pak Hr, dosen berengsek itu.
Rumah Pak Hr terletak di sebuah perumahan elite, di atas sebuah bukit, agak jauh dari rumah-rumah lainnya. Belum sempat memijit Bel pintu sudah terbuka, Seraut wajah yang sudah mulai tua tetapi tetap segar muncul.
Ehh! Winda, ayo masuk!, sapa orang itu yang tak lain adalah pak Hr sendiri.
Permisi pak! Ibu mana?, tanyaku berbasa-basi.
Ibu sedang pergi dengan anak-anak ke rumah neneknya!, sahut pak Hr ramah.
Sebentar ya, katanya lagi sambil masuk ke dalam ruangan.
Tumben tidak sepeti biasanya ketika mengajar di kelas, dosen ini terkenal paling killer.
Rumah Pak Hr tertata rapi. Dinding ruang tamunya bercat putih. Di sudut ruangan terdapat seperangkat lemari kaca temapat tersimpan berbagai barang hiasan porselin. Di tengahnya ada hamparan permadani berbulu, dan kursi sofa kelas satu.
Gimana sudah siap?, tanya pak Hr mengejutkan aku dari lamunannya.
Eh sudah pak!
Sebenarnya, sebenarnya Winda tidak perlu mengikuti ulang susulan kalau, kalau!
Kalau apa pak?, aku bertanya tak mengerti. Belum habis bicaranya, Pak Hr sudah menuburuk tubuhku.
Terkait
Pak, apa-apaan ini?, tanyaku kaget sambil meronta mencoba melepaskan diri.
Jangan berpura-pura Winda sayang, aku membutuhkannya dan kau membutuhkan nilai bukan, kau akan kululuskan asalkan mau melayani aku!, sahut lelaki itu sambil berusaha menciumi bibirku.
Serentak Bulu kudukku berdiri. Geli, jijik, namun detah dari mana asalnya perasaan hasrat menggebu-gebu juga kembali menyerangku. Ingin rasanya membiarkan lelaki tua ini berlaku semaunya atas diriku. Harus kuakui memang, walaupun dia lebih pantas jadi bapakku, namun sebenarnya lelaki tua ini sering membuatku berdebar-debar juga kalau sedang mengajar. Tapi aku tetap berusaha meronta-ronta, untuk menaikkan harga diriku di mata Pak Hr. Lanjut baca!

0 Response to "Viral Pesta Ngentot Memek dan Anus Perawan"
Posting Komentar