Explore Zona Dewasa

Heboh Anus Amelia di Sodok Pengamen Bus 1

Piool.com - Pada hari Sabtu yang merupakan santai bagiku itu aku berniat ke Maruzen Manggarai untuk mencari buku. Di atas Metro Mini 19, Manggarai Senen PP seorang pengamen naik dari terminal RS Raden Saleh. Dengan celana jeans belel dan gitar bututnya dia melantunkan lagu-lagu. Kuperhatikan bokong anak ini seksi sekali. Anaknya jangkung, kurasa tidak kurang dari 170 cm, kerempeng, rambutnya yang agak dipanjangkan lepas terurai. Aku perkirakan usianya sekitar 21 atau 22 tahun. Wajahnya nampak bersih, sepertinya mahasiswa drop out.


Sejak dari RS Raden Saleh hingga depan stasiun KA Cikini aku tidak begitu memperhatikan apa yang dinyanyikannya maupun melodi yang dibawakan oleh gitarnya. Yang terus menjadi perhatianku hanyalah bokongnya yang seksi itu. Kubayangkan seandainya aku bisa membenamkan wajahku di celah bokongnya. Dengan membayangkannya saja aku sudah ngaceng berat.

Di stasiun KA Cikini, dia turun. Aku tiba-tiba begitu saja ikut turun, dan lantas mengejarnya saat melihat dia bergegas ke arah pasar Cikini.
‘Dik, dik, sebentar, mau tanya. Saya seneng denger lagu-lagunya tadi. Kalau aku carter bisa nggak? Adik hanya nyanyi untuk saya. Kebetulan saya ini penulis yang harus banyak mencari inspirasi. Mungkin adik bersama saya selama 2 atau 3 hari. Berapa saya bayar per harinya? Kalau bisa kita besok ketemu di mana? Akan saya jemput. Saya akan menginap di Bogor. Di sana saya punya pondok yang asri dan sejuk. Saya selalu menulis di tempat itu’.
Begitulah, aku langsung membeberkan maksud dan tujuanku secara lengkap dan terperinci kepada sang pengamen bis kota ini.
‘Eeehhmm.. Boleh Oom, terserah Oom aja mau kasih berapa. Hitung-hitung cari pengalaman. O ya boleh nggak kalau saya bawa teman Oom’.
Aku agak mikir.., tetapi sebelum aku menjawabnya, ‘Ah nggak usah deh, Oom khan mau ngarang, n’tar ngeganggu lagi. Besok disini saja Oom ketemunya. Saya khan tinggal di belakang pasar itu. Jam berapa?’.
‘Jam 11.00, nanti kita makan siang dulu di deket-deket sini. Siapa nama adik? O ya, nih buat panjer ..’, kusodorkan 1 lembar 100 ribuan rupiah.
Wajahnya langsung berbinar, ‘Nama saya Robert Oom. Panggil saja Obet. Makasih Oom, besok ya, saya tunggu. Selamat siang’.


Biasa, aku selalu lancar dalam mengawali sesuatu, tetapi sebagaimana saat ini, aku berpikir, bagaimana besok? Ya, biar besok sajalah! Dengan HP, kutelepon Pak Karta pemilik pondok santai yang biasa kupinjam (sewa) untuk bersantai di Bogor.
‘Pak saya mau pinjem tempat ya, 2 hari. Besok siang saya nyampe, kuncinya titipin Mang Jani saja. N’tar saya mampir sana’, nah beres sudah.

Pondok Pak Karta terletak di kebun buah-buahan yang cukup luas. Ada pohon manggis, duku, jambu, sawo dan lainnya.
Pukul 11.00 sesuai janji kujemput Obet di dekat stasiun Cikini. Aku pinjem mobil kakakku dengan alasan akan melihat-lihat tanah di Bogor, ada relasiku yang butuh tanah untuk rumah kebun. Sesampai di tempat, aku turun dari mobil dan melihat sana sini. Ternyata Obet sudah melihatku saat parkir mobil. Lanjut baca!

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Heboh Anus Amelia di Sodok Pengamen Bus 1"

Posting Komentar